Tiga Jenis Riya', Kebaikan yang Dipamerkan


PENYAKIT yang sering dianggap sebagai Muslim beribadah, saat melakukan baik adalah timbulnya rasa riya atau pamer. Ini merupakan hal yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW. Ia bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ.
Sesungguhnya hal yang paling mengkhawatirkan yang aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil.
Kemudian para sahabat bertanya: "Apa syirik kecil itu wahai Rasululloh?"
Rasulullah menjawab:
اَلرِّيَاء. يقول الله عز وجل يوم القيامة إذا جازى العباد بأعمالهم: اذهبوا إلى الذين كنتم تراءون في الدنيا, فانظروا هل تجدون عندهم الجزاء?

(Syirik kecil itu adalah) Riya. Pada hari kiamat kompilasi Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung membalas hambanya terhadap amal-amal mereka, Allah berfirman, 'Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian riyaa kepada mereka ketika di dunia. Maka lihatlah! Apakah kalian mendapatkan balasan di sisi mereka?'" 
Rasulullah SAW juga bersabda:
Laa yaqbalullahu azza wa jalla amalan fihi mitswolu dzarratin min riya'
Artinya: "Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal yang di dalamnya terdapat riya' walau seberat biji sawi."
Imam Al-Ghazali menerangkan bahwa riya adalah sifat seseorang yang mencari kedudukan di hati orang lain dengan memperlihatkan kebaikan.
Imam al-Ghazali merangkumnya menjadi tiga tingkatan:
Pertama, riya yang paling berat adalah memperlihatkan kebaikan kepada orang lain dengan tujuan untuk meloloskan diri dalam berbuat kemaksiatan.
Riya yang kedua adalah memamerkan keunggulan kepada orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan urusan duniawi, baik harta, tahta maupun wanita.
Riya yang paling ringan adalah memamerkan karena khawatir akan lebih buruk di mata orang lain.
Akan tetapi selama tujuan disetujui manfaatnya bisa dicontoh dan menjadi motivasi bagi orang lain untuk meminta kebaikan, maka hal itu diperbolehkan dalam syariat.
Syaikh Hasan al-Basri mengatakan: “Sesungguhnya merahasiakan amal itu lebih bisa diizinkan amal itu sendiri. Akan tetapi menampakkan amal juga memiliki Manfaat. Oleh karena itu Allah Ta'ala menyetujui terhadap orang yang merahasiakan amal baik yang menampakkannya. Allah berfirman:
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ َ َ
Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikan saat memberikan kepada orang-orang faqir, maka itu lebih baik bagimu.”
Firman Allah ta'ala:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَاًبِاًدِاًدِد
Artinya : "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka lakukan amal shaleh dan janganlah ia mempersembahkan kepada orang lain dalam beribadah kepada Tuhannya."
Mudah-mudahan setiap Muslim bisa terhindar dari sifat riya dan bisa menjadi golongan orang-orang yang ikhlas dalam beribadah. (*)

Sumber text : eramuslim.com
Image : berita dunia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?

Istri : Mahram Apa Bukan?

Ulama Dikenal Karena Tulisannya (Karya Ilmiah)