Taklid Bagi Orang Awam

Taklid Bagi Orang Awam itu Wajib

Para ulama menyebutkan bahwa jika orang itu ternyata masih awam dalam agama, dan awam dalam mengetahui dalil-dalil syariat secara benar, maka orang itu wajib taklid.
Ibnu Muflih al-Hanbali (w. 763 H) menyebutkan[1]:
والعامي يلزمه التقليد مطلقًا
Orang yang awam maka wajib baginya taklid secara muthlak
Beliau melanjutkan bahwa orang awam yang mengambil hukum dari mufti itu disebut taklid[2].
قال بعض أصحابنا: المشهور أن أخذ عامي بقول مفتٍ تقليد
Seorang yang awam ketika mengambil perkataan seorang mufti itu disebut taklid menurut sebagian mazhab Hanbali.
Sebagaimana pernyataan dari Imam Ghazali (w. 505 H)[3]:
الْعَامِّيُّ يَجِبُ عَلَيْهِ الِاسْتِفْتَاءُ وَاتِّبَاعُ الْعُلَمَاءِ
Orang yang kewajibannya adalah meminta fatwa dan mengikuti ulama.
Sebagaimana pernyataan dari Abu al-Wafa Ali bin Uqail (w. 513 H) [4]:
العامَّةَ حقُّهم التقليدُ لغيرِهم، وليسَ لهم رُتبةُ الفُتيا ولا رجوع غيرِهم إليهم
Orang yang awam kewajiban mereka adalah taklid kepada orang lain, dan mereka tidak boleh berfatwa dan orang lain tak boleh mengambil pendapat mereka.
Ibnu as-Shalah (w. 643 H) menyebutkan[5]:
فَكل من لم يبلغ دَرَجَة الْمُفْتِي فَهُوَ فِيمَا يسْأَل عَنهُ من الْأَحْكَام الشَّرْعِيَّة مستفت ومقلد لمن يفتيه
Setiap orang yang belum sampai level mufti maka jika dia bertanya tentang hukum syariat dia disebut mustafti dan orang yang bertaklid kepada orang yang ditanya.

Awamkah Kita?

Para ulama memang mengharuskan bagi orang yang tak bisa menggali hukum dari sumbernya sendiri untuk bertanya kepada ulama. Entah apapun namanya itu; baik disebut taklid, meminta fatwa atau ittiba’.
Hanya saja memang masalahnya, banyak orang yang tak mau disebut masih awam. Karena dianggapnya awam artinya bodoh. Tentu tak ada yang mau disebut bodoh.
Padahal para ulama menjelaskan bahwa disebut orang awam dalam agama adalah orang yang tak memiliki perangkat untuk berijtihad, menggali hukum sendiri dari dalil-dalil agama. Atau bahasa lainnyya adalah mustafti.
Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menyebutkan[6]:
فأما صفة المستفتي فهو: العامي الذي ليس معه ما ذكرنا من آلة الاجتهاد.
Sifat dari orang yang meminta fatwa adalah orang awam yang tak memiliki perangkat ijtihad yang telah disebutkan sebelumnya.
Bahkan orang yang ahli bahasa, ahli nahwu, ahli matematika pun jika tak mumpuni dalam perangkat ijtihadnya, keilmuan untuk menggali hukum Al-Qur’an dan Haditsnya juga disebut sebagai orang awam[7].
Bahkan lebih menarik lagi, Ibnu Rusyd (w. 505 H) memasukkan Fuqaha’ atau ulama ahli fiqih pada zamannya dalam golongan orang awam dan Muqallid atau orang yang taklid.
Ibnu Rusyd (w. 595 H) mengungkapkan[8]:
ولأن ههنا طائفة تشبه العوام من جهة، والمجتهدين من جهة، وهم، - المسمون في زماننا هذا أكثر ذلك بالفقهاء، فينبغى أن ننظر في أي الصنفين أولى أن نلحقهم. وهو ظاهر من أمرهم أن مرتبتهم مرتبة، العوام، وأنهم مقلدون.
Disana ada golongan yang disatu sisi mirip orang awam, disatu sisi mirip mujtahid. Mereka lebih dikenal di zaman ini dengan sebutan Fuqaha’. Maka kita selayaknya melihat, kira-kira mereka lebih cenderung pada golongan mana. Hal yang jelas terlihat dari mereka adalah mereka masuk dalam kategori awam, mereka adalah muqallid.
Fuqaha’ atau ulama fiqih di zaman Ibnu Rusyd (w. 595 H) memang mirip-mirip dengan mujtahid, padahal mereka sebenarnya masih awam. Beliau melanjutkan:
والفرق بين هؤلاء وبين العوام، أنهم يحفظون الآراء التي للمجتهدين فيخبرون عنها العوام، من غير أن تكون عندهم شروط الاجتهاد، فكأن مرتبتهم في ذلك مرتبة الناقلين عن المجتهدين.
Perbedaan mereka (Fuqaha’) dengan awam adalah mereka menghafal pendapat-pendapat para mujtahid lalu mengabarkannya kepada orang awam, mereka juga belum memiliki syarat-syarat mujtahid, maka derajat mereka adalah derajat mengabarkan pendapat mujtahid.
ولو وقفوا في هذا لكان الأمر أشبه، لكن يتعدون فيقيسون أشياء لم ينقل فيها عن مقلديهم حكم على ما نقل عنه في ذلك حكم فيجعلون أصلا ما ليس بأصل، ويصيرون أقاويل المجتهدين أصولأ لاجتهادهم، وكفى بهذا ضلالا وبدعة
Jika saja mereka (Fuqaha’) hanya berdiam diri maka itu akan lebih baik. Tapi sayangnya mereka melampaui batas dan menqiyaskan sendiri  sesuatu hukum dari hasil ijtihad orang yang di-taklidi-nya. Maka terjadilah kesesatan dan kebid’ahan.
Ibnu Rusyd (w. 505 H) secara umum menyebutkan bahwa disebut muqallid jika belum  memenuhi syarat mujtahid. Bahkan Ahli Fiqih pun lebih cocok dimasukkan dalam golongan orang awam dan muqallid.

Bertanya Kepada Ahlinya

Bagi orang awam, wajib mencari tau berkaitan dengan layak tidaknya orang yang akan diminta fatwa. Boleh juga bertanya kepada orang yang sudah dikenal luas masyarakat menjadi orang yang ahli berfatwa[9].
يجب على العامي قطعا البحث الذي به يعرف صلاح المفتي للاستفتاء إذا لم تكن تقدمت معرفته بذلك، ولا يجوز له استفتاء من اعتزى إلى العلم وإن انتصب في منصب التدريس أو غيره. ويجوز استفتاء من تواتر بين الناس أو استفاض فيهم كونه أهلا للفتوى المستدرك على مجموع الفتاوى (2/ 259)
Wajib bagi orang awam mencari tahu kapasitas seorang mufti untuk berfatwa, ketika orang awam itu belum kenal orang yang ditanya sebelumnya. Tidak boleh bagi orang awam meminta fatwa kepada orang yang dikenal menjadi pengajar. Bagi orang awam boleh meminta fatwa kepada orang yang sudah terkenal secara mutawatir bahwa orang itu adalah seorang mufti.

Awam Tahu Dalil, Bolehkah Berfatwa?

Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) pernah ditanya, jika orang awam itu tahu suatu hukum beserta dalil-dalilnya, apakah dia boleh berfatwa dan diikuti?
Menurut pandapat yang lebih shahih oleh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) adalah tetap tidak boleh[10]. Beliau menyebutkan:
ذكر الماوردي في الحاوي في العامي إذا عرف حكم حادثة بنى على دليلها ثلاثة أوجه، أحدها: أنه يجوز أن يفتي به، ويجوز تقليده فيه. والثاني: يجوز ذلك إن كان دليلها من الكتاب أو السنة. والثالث -وهو الأصح-: أنه لا يجوز ذلك مطلقا
Imam al-Mawardi menyebutkan dalam kitabnya al-Hawi, bahwa orang awam jika telah mengetahui hukum suatu perkata dan tahu juga dalilnya, (tentang bolehnya berfatwa) itu terbagi menjadi 3 pendapat; Pertama: dia boleh berfatwa, boleh ditaklidi. Kedua: boleh berfatwa jika dalilnya dari Al-Qur’an dan Hadits. Ketiga: inilah yang paling shahih, dia tidak boleh berfatwa secara mutlak. 

Awam Tahu Hadits Tak Tahu Fiqih, Bolehkah Berfatwa?

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, pernah ditanya oleh anaknya; Shalih yang tentang orang yang tahu suatu hadits, tapi tak ahli fiqih, bolehkah dia berfatwa[11].
Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) menjawab:
قَالَ صَالِحُ بْنُ أَحْمَدَ: قُلْت لِأَبِي: مَا تَقُولُ فِي الرَّجُلِ يَسْأَلُ عَنْ الشَّيْءِ فَيُجِيبُ بِمَا فِي الْحَدِيثِ وَلَيْسَ بِعَالِمٍ فِي الْفِقْهِ؟ فَقَالَ: يَنْبَغِي لِلرَّجُلِ إذَا حَمَلَ نَفْسَهُ عَلَى الْفُتْيَا أَنْ يَكُونَ عَالِمًا بِالسُّنَنِ، عَالِمًا بِوُجُوهِ الْقُرْآنِ، عَالِمًا بِالْأَسَانِيدِ الصَّحِيحَةِ، وَذَكَرَ الْكَلَامَ الْمُتَقَدِّمَ
Shalih bertanya kepada Ahmad bin Hanbal. Bagaimana seseorang jika ditanya tentang sesuatu, lalu dia menjawab dengan apa yang di dalam hadits, tapi dia tidak alim dalam bab fiqih.
Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: Sebaiknya jika seseorang ingin berfatwa, memang harus alim dalam sunnah-sunnah Nabi, alim terhadap wujuh Al-Qur’an, alim terhadap sanad-sanad yang shahih, lalu beliau (Imam Ahmad bin Hanbal) menyebutkan syarat-syarat yang dikemukakan sebelumnya (syarat yang dikemukakan sebelumnya oleh Imam Syafi’i; yaitu harus alim terhadap nasihk-mansukh Al-Qur’an, muhkam-mutasyabih, ta’wil-tanzil, makkiyyah-madaniyyah, mengetahui hadits-hadits Nabi sebagaimana pengetahuan terhadap Al-Qur’an, mengetahui kaidah bahasa, syiir Arab, mengetahui perbedaan pendapat para ulama, dll).

Dalil Bagi Orang Awam

As-Syathibi (w. 790 H) menyebutkan bahwa sebenarnya fatwa seorang mujtahid bagi orang awam itu layaknya dalil syar’i yang untuk para mujthaid. Buktinya adalah ada dan tidaknya suatu dalil bagi orang awam itu sama saja. Karena mereka tak bisa mengambil faedah sendiri, dan beristinbath hukum sendiri darinya.
Bahkan jika seseorang itu masih awam, maka tak diperkenankan sama sekali untuk menggali hukum langsung dari dalil-dalil syar’i itu, karena kasus keliru memahami dalil bagi orang yang belum level mujtahid itu lebih bahaya daripada bertaklid kepada mujtahid.
Beliau menyebutkan[12]:
فَتَاوَى الْمُجْتَهِدِينَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْعَوَامِّ كالأدلة الشرعية بالنسبة إلى الْمُجْتَهِدِينَ. وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ أَنَّ وُجُودَ الْأَدِلَّةِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْمُقَلِّدِينَ وَعَدَمَهَا سَوَاءٌ؛ إِذْ كَانُوا لَا يَسْتَفِيدُونَ مِنْهَا شَيْئًا؛ فَلَيْسَ النَّظَرُ فِي الْأَدِلَّةِ وَالِاسْتِنْبَاطُ مِنْ شَأْنِهِمْ، وَلَا يَجُوزُ ذَلِكَ لَهُمْ أَلْبَتَّةَ
Fatwa para mujtahid bagi orang awam itu seperti dalil-dalil syariat bagi mujtahid. Buktinya adalah ada dan tidaknya suatu dalil bagi orang awam itu sama saja. Karena mereka tak bisa mengambil faedah sendiri. Seorang awam bukan tugasnya menggali hukum syariat dan tak dibolehkan sama sekali.
Melarang orang awam untuk menggali hukum sendiri dari sumbernya bukan berarti menjadikan mereka selalu bodoh, dan harus selalu taklid. Tetapi coba-coba dalam syariat itu akibatnya lebih fatal daripada menyerahkan hal yang penting kepada ahlinya.
Tetapi jika orang awam ketika meminta fatwa dan bertaklid itu tahu dalilnya, tentu hal yang sangat bagus. Itulah yang kadang orang sebut dengan ittiba’[13].
Meski pemberi tahuan dalil bagi orang awam ini menurut as-Sam’ani hanya berkaitan dengan dalil yang sifatnya qath’i dan tak butuh ijtihad. Karena orang awam tak punya perangkat ijtihad.
Imam Nawawi (w. 676 H) menyitir pernyataan dari as-Sam’ani[14]:
ذكر السمعاني: أنه لا يمنع من أن يطالب المفتي بالدليل لأجل احتياطه لنفسه، وأنه يلزمه أن يذكر له الدليل إن كان مقطوعًا به، ولا يلزمه ذلك إن لم يكن مقطوعًا به لافتقاره إلى اجتهاد يقصر عنه العامي
As-Sam’ani menyebutkan bahwa tidak dilarang jika seorang mustafti atau orang yang meminta fatwa itu juga menyakanan dalilnya kepada mufti. Karena untuk kehati-hatian dirinya. Jika dalilnya qath’i, maka harus disampaikan dalilnya. Jika dalilnya tidak qath’i dan butuh ijtihad dalam memahaminya, maka tidak harus disampaikan dalil itu, karena orang yang awam tak punya perangkat pada dirinya untuk memahami hal itu.

Oleh : Ust. Hanif Luthfi, LC, MA 

[1] Muhammad bin Muflih al-Hanbali (w. 763 H), Ushul al-Fiqh, (Kairo: Maktabah Ubaikan, 1420 H), juz 4, hal. 1520. Lihat pula: al-Ghazali Abu Hamid Muhammad bin Muhammad (w. 505 H), al-Mustashfa, (Baerut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1413 H), hal. 372
[2] Muhammad bin Muflih al-Hanbali (w. 763 H), Ushul al-Fiqh, (Kairo: Maktabah Ubaikan, 1420 H), juz 4, hal. 1531
[3] al-Ghazali Abu Hamid Muhammad bin Muhammad (w. 505 H), al-Mustashfa, (Baerut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1413 H), hal. 372
[4] Abu al-Wafa Ali bin Aqil (w. 513 H), al-Wadhih fi Ushul al-Fiqh, (Baerut: Muassasah ar-Risalah, 1420 H), juz 5, hal. 177
[5]  Ibnu as-Shalah Utsman bin Abdurrahman (w. 643 H), Fatawa Ibnu as-Shalah, (Baerut: Maktabah al-Ulum wa al-Hikam, 1407 H), hal. 85
[6] Ibnu Taimiyyah Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim (w. 728 H), al-Mustadrak ‘ala Majmu al-Fatawa, (Mekkah: Majma; Malik Fahd, 1418 H), juz 2, hal. 270
[7] Ibnu Qudamah Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad (w. 620 H), Raudhatu an-Nadzir wa Junnatul Munadzir, (Riyadh: Muassasah ar-Rayyan, 1423 H), juz 1, hal. 392
[8] Ibnu Rusyd al-Hafid Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad (w. 595 H), ad-Dharuri fi Ushul al-Fiqh/ Mukhtashar al-Mushtashfa, hal. 144
[9] Ibnu Taimiyyah Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim, al-Mustadrak ala Majmu al-Fatawa, (Mekkah: Majma; Malik Fahd, 1418 H), juz 2, hal. 259
[10] Ibnu Taimiyyah Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim, al-Mustadrak ala Majmu al-Fatawa, (Mekkah: Majma; Malik Fahd, 1418 H), juz 2, hal. 270
[11] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H), I’lam al-Muwaqqiin, (Baerut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1411 H), juz 1, hal. 37
[12] As-Syathibi Ibrahim bin Musa (w. 790 H), al-Muwafaqat, (Riyadh: Dar Ibn Affan, 1417 H), juz 5, hal. 336
[13] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H), I’lam al-Muwaqqiin, (Baerut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1411 H), juz 2, hal. 131
[14] Yahya bin Syarat an-Nawawi (w. 676 H), Adab al-Mufti wa al-Mustafti, (Madinah: Maktabah al-Ulum, 1423 H), hal. 171

Sumber text : rumahfiqih.com
Image : redaksi indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?

Istri : Mahram Apa Bukan?

Ulama Dikenal Karena Tulisannya (Karya Ilmiah)