The Walstreet Journal Soroti Kunjungan Ormas Indonesia ke Uighur
Berita media yang berbasis di New York, Amerika Serikat, The Wallstret Journal (WSJ) membuat geger publik Muslim Indonesia selama dua hari terakhir ini. Di media sosial publik ramai memperbincangkanya. Pro kontra terjadi. Ada yang terkesima, mengangguk setuju, hingga geleng-geleng kepala.
Memang isi berita media itu sangat menyentak. Judulnya Provokatif: 'How China Persuaded One Muslim Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps'. Bila diterjemahkan menjadi: 'Bagaimana China Membujuk Satu Bangsa Muslim untuk Tetap Diam di Kamp Xinjiang'.
Tentu saja banyak orang yang kebakaran jenggot atas berita ini. Ormas Islam pun sibuk membantah. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas menolak tuduhan media asing ini soal ormas Islam yang disuap Cina agar bungkam soal isu hak asasi manusia etnis Uighur. Artikel yang dimaksud itu memang terbit pada Rabu (11 Desember 2019) di laman daring WSJ tersebut.
"Apakah dengan mengundang tokoh-tokoh dari ketiga ormas ke Uighur Cina lalu ketiga ormas itu akan melemah kepada Pemerintah Cina? Tidak," kata Anwar kepada wartawan di Jakarta, Jumat.
Anwar memerinci, tiga ormas dimaksud adalah Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. "Cina menyuap MUI, NU, dan Muhammadiyah? Bagaimana caranya mereka menyuap ketiga organisasi tersebut," katanya.
Anwar yang juga sekretaris jenderal MUI mengatakan, sikap ormas-ormas Islam itu sudah jelas, yaitu amar makruf nahi mungkar atau mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jika tindakan Pemerintah Cina itu baik, menurut dia, tentu didukung. Tapi, jika zalim kepada rakyat Uighur maka sikap dari ormas Islam sudah jelas.
"Kami tidak akan membiarkan praktik kezaliman itu ada," kata dia
Anwar menjelaskan, pihaknya mengutuk sikap dan tindakan Pemerintah Cina terhadap umat Islam Uighur. Hal itu juga berlaku bagi Amerika Serikat yang zalim terhadap rakyat Afghanistan dan Palestina.
MUI dan Muhammadiyah, menurut Anwar, cinta damai dan keadilan. Ia menegaskan bahwa meskipun seribu kali Pemerintah Cina mengundang MUI dan Muhammadiyah untuk datang ke Cina, sikap terhadap Uighur tidak akan berubah.
"Maka selama Pemerintah Cina tidak bisa menghormati hak-hak beragama dari rakyat Uighur, MUI dan Muhammadiyah akan tetap bersuara dengan lantang melawannya," katanya.
Demikian juga, menurut Anwar, untuk kasus di Afghanistan dan Palestina. Selama Amerika tidak menghormati hak-hak rakyat Afghanistan dan Palestina, MUI dan Muhammadiyah jelas tidak akan tinggal diam.
MUI dan Muhammadiyah, menurut Anwar, tidak memusuhi Cina dan Amerika. "Yang kami musuhi adalah perbuatannya yang tidak benar dan tidak manusiawi tersebut," kata dia.
Tak berbeda dengan Anwar Abbas dari PP Muhammadiah wartawan Republika, Bayu Hermawan, yang ikut disebut dalam tulisan artikel di 'WSJ' mendadak terkenal. Setidaknya sudah beberapa jurnalis dari media lain mencari-cari dia untuk mewawancarainya.
Dan Bayu memang beberapa waktu lalu pergi ke Uighur atas undangan pemerintah China. Nama wartawan lain, Fitriyan Zamzami, juga ikut disebut dalam artikel itu. Dia yang mengedit laporan itu dan Fitrian pernah pula ke Beijing.
''Tulis saja apa yang kamu lihat,'' kata Fitriyan ketika memberikan pesan kepada Bayu sebelum ke Uighur. Dan memang Bayu kemudian pergi bersama wartawan dari sebuah stasiun televisi swasta.
Nah, agar tidak penasaran inilah salah satu dari dua tulisan yang terkait dengan Uighur hingga mungkin diangap menarik perhatian WSJ. Tulisannya begini:
'Tuhan tak Diizinkan Disembah di Kamp Vokasi Xinjiang'
--Selama di kamp vokasi, Muslim Xinjiang tidak boleh melakukan shalat lima waktu.
Laporan Bayu Hermawan dari Xinjiang, RRC
Sejumlah lembaga HAM internasional menuding Pemerintah Republik Rakyat Cina (RRC) melakukan pelanggaran HAM terhadap Muslim Uighur di kamp-kamp reedukasi di Xinjiang. Sementara Beijing menyebut, kamp-kamp tersebut sebagai pusat vokasi untuk deradikalisasi. Wartawan Republika, Bayu Hermawan menyertai rombongan dari MUI, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah mengunjungi Xinjiang untuk mencari tahu kebenarannya.
Kamar itu tak luas. Begitu masuk, di depan pintu sudah ada sebuah ranjang bertingkat dari besi dengan panjang yang hanya pas rata-rata orang dewasa. Bersisian dengan ranjang itu, ada ranjang bertingkat lain yang sama-sama menempel di dinding bagian panjangnya. Tebal kasurnya tak sampai lima sentimeter, hanya ditemani selimut yang terlipat rapi. Tampak minim mengingat dingin di Xinjiang yang pada awal-awal tahun ini kerap di bawah 10 derajat Celsius.
Di bagian kanan pintu, di seberang dua ranjang di atas, ada loker, juga dari besi. Di sebelah loker itu ada satu lagi ranjang bertingkat. Ruang di antara dua sisi itu diimbuhi meja kayu besar, membuat ruangan kian sempit.
Ruang itu hanya dipisah tirai tipis dengan ruangan lain yang berfungsi sebagai kamar kecil dan kamar mandi. Ini bukan kamar yang leluasa buat bergerak.
Meski kebanyakan penghuni kamar-kamar tersebut adalah pemeluk agama Islam, nyaris tak ada ruang untuk berdiri, rukuk, dan bersujud ke arah Makkah. Seperti Tuhan tidak diizinkan disembah di sana.
Tak ada sajadah, tak ada penanda kiblat, tak ada tasbih, tak nampak selembar pun Alquran. Aksesori milik penghuni hanya sebuah cangkir besar berisi sikat gigi dan pasta gigi semata.
Di ruang seperti itulah penghuni kamp-kamp vokasi di Xinjiang tidur sehari-hari. Sisa hari, menurut penjaga kamp, mereka habiskan guna mempelajari berbagai keahlian.
Kamar itu tak luas. Begitu masuk, di depan pintu sudah ada sebuah ranjang bertingkat dari besi dengan panjang yang hanya pas rata-rata orang dewasa. Bersisian dengan ranjang itu, ada ranjang bertingkat lain yang sama-sama menempel di dinding bagian panjangnya. Tebal kasurnya tak sampai lima sentimeter, hanya ditemani selimut yang terlipat rapi. Tampak minim mengingat dingin di Xinjiang yang pada awal-awal tahun ini kerap di bawah 10 derajat Celsius.
Di bagian kanan pintu, di seberang dua ranjang di atas, ada loker, juga dari besi. Di sebelah loker itu ada satu lagi ranjang bertingkat. Ruang di antara dua sisi itu diimbuhi meja kayu besar, membuat ruangan kian sempit.
Ruang itu hanya dipisah tirai tipis dengan ruangan lain yang berfungsi sebagai kamar kecil dan kamar mandi. Ini bukan kamar yang leluasa buat bergerak.
Meski kebanyakan penghuni kamar-kamar tersebut adalah pemeluk agama Islam, nyaris tak ada ruang untuk berdiri, rukuk, dan bersujud ke arah Makkah. Seperti Tuhan tidak diizinkan disembah di sana.
Tak ada sajadah, tak ada penanda kiblat, tak ada tasbih, tak nampak selembar pun Alquran. Aksesori milik penghuni hanya sebuah cangkir besar berisi sikat gigi dan pasta gigi semata.
Di ruang seperti itulah penghuni kamp-kamp vokasi di Xinjiang tidur sehari-hari. Sisa hari, menurut penjaga kamp, mereka habiskan guna mempelajari berbagai keahlian.
Republika berkesempatan mengunjungi dua tempat vokasi, yang ramai disebut-sebut sebagai kamp penahanan dan cuci otak oleh pegiat HAM barat. Rombongan terdiri atas tokoh-tokoh MUI, NU, dan Muhammadiyah dari Indonesia berkunjung ke Kota Hotan dan Kashgar, Xinjiang, baru-baru ini. Pusat vokasi dibangun jauh dari pusat kota.
Di Kota Hotan, misalnya, jarak tempuh dari pusat kota ke pusat vokasi sekitar 30 sampai 45 menit menggunakan mobil. Jalanan di kota ini sangat lengang dan tidak ada kemacetan sama sekali, ditambah dengan pengawalan khusus dari pemerintah setempat.
Bangunan yang resminya bernama Moyu County Vocational Education and Training Center itu melingkupi kompleks bangunan seluas tiga hektare, dengan beberapa bangunan bertingkat dua hingga lima lantai berwarna oranye dan merah.
Masing-masing gedung mempunyai fungsi berbeda. Gedung berlantai lima dikhususkan untuk kelas pelatihan. Di dalam gedung, terdapat enam ruang kelas di kiri dan kanan di setiap lantainya.
Di Kota Hotan, misalnya, jarak tempuh dari pusat kota ke pusat vokasi sekitar 30 sampai 45 menit menggunakan mobil. Jalanan di kota ini sangat lengang dan tidak ada kemacetan sama sekali, ditambah dengan pengawalan khusus dari pemerintah setempat.
Bangunan yang resminya bernama Moyu County Vocational Education and Training Center itu melingkupi kompleks bangunan seluas tiga hektare, dengan beberapa bangunan bertingkat dua hingga lima lantai berwarna oranye dan merah.
Masing-masing gedung mempunyai fungsi berbeda. Gedung berlantai lima dikhususkan untuk kelas pelatihan. Di dalam gedung, terdapat enam ruang kelas di kiri dan kanan di setiap lantainya.
Setiap ruang kelas mengajarkan mata pelajaran keterampilan yang berbeda. Mulai dari komputer, perhotelan, kebidanan, elektronik, mesin kendaraan, salon, hingga keterampilan untuk menjadi pembantu rumah tangga. Setiap kelas diisi sekitar 10-15 orang dan dipisahkan antara wanita dan pria. Peserta kamp beragam usia, dari yang baru berumur sekitar 20 tahun hingga 30 tahun lebih.
Hal yang sama juga dengan pusat vokasi di Kota Kashgar. Dilihat dari bagian luar, pusat vokasi dikelilingi pagar yang tinggi, serta dilengkapi dengan banyak kamera pengawas. Saat mengunjungi lokasi tersebut, para pejabat setempat mengawal ketat rombongan. Rombongan tak bisa berinteraksi dengan penghuni kamp tanpa didampingi dan diawasi pihak pemerintah setempat.
Kamp vokasi di Hotan, menurut pihak pengelola, saat ini tengah dihuni sekitar seribu Muslim Uighur. Sementara kamp di Kashgar dihuni 800 orang. Pemerintah daerah otonomi Xinjiang tak bersedia menyebutkan berapa banyak kamp tersebut berdiri di seantero Xinjiang. Kendati demikian, mereka menuturkan, jumlahnya bisa menyesuaikan kebutuhan pemerintah.
Perempuan yang ikut dalam program pendidikan, tidak ada satu pun yang mengenakan jilbab atau sekadar berkerudung. Semuanya sama dengan peserta pria, yakni mengenakan setelan jaket dan celana berwarna merah dengan aksen hitam.
Hal yang sama juga dengan pusat vokasi di Kota Kashgar. Dilihat dari bagian luar, pusat vokasi dikelilingi pagar yang tinggi, serta dilengkapi dengan banyak kamera pengawas. Saat mengunjungi lokasi tersebut, para pejabat setempat mengawal ketat rombongan. Rombongan tak bisa berinteraksi dengan penghuni kamp tanpa didampingi dan diawasi pihak pemerintah setempat.
Kamp vokasi di Hotan, menurut pihak pengelola, saat ini tengah dihuni sekitar seribu Muslim Uighur. Sementara kamp di Kashgar dihuni 800 orang. Pemerintah daerah otonomi Xinjiang tak bersedia menyebutkan berapa banyak kamp tersebut berdiri di seantero Xinjiang. Kendati demikian, mereka menuturkan, jumlahnya bisa menyesuaikan kebutuhan pemerintah.
Perempuan yang ikut dalam program pendidikan, tidak ada satu pun yang mengenakan jilbab atau sekadar berkerudung. Semuanya sama dengan peserta pria, yakni mengenakan setelan jaket dan celana berwarna merah dengan aksen hitam.
Saat dikunjungi Republika di Kamp Vokasi Kashgar, para siswa sedang belajar merancang busana dengan mengambar pada kertas-kertas kosong. Di pusat vokasi di Kasghar, tidak ada sama sekali simbol keagamaan yang ditunjukkan di dalam gedung-gedung tinggi di sana.
"Di sini (kamp vokasi) adalah lembaga pendidikan, bukan lembaga agama. Karena sekolah ini didirikan atas hukum negara, jadi jika mereka belajar di kelas, tentu saja tidak melakukan ibadah apa pun," ujar Abdi Libe, pengelola tempat vokasi di Moyu, Hotai, Xinjiang, yang ditemui Republika.
"Di sini (kamp vokasi) adalah lembaga pendidikan, bukan lembaga agama. Karena sekolah ini didirikan atas hukum negara, jadi jika mereka belajar di kelas, tentu saja tidak melakukan ibadah apa pun," ujar Abdi Libe, pengelola tempat vokasi di Moyu, Hotai, Xinjiang, yang ditemui Republika.
Saat ditanya, apakah murid diperbolehkan melaksanakan shalat di sela-sela mengikuti pelajaran, Abdi mengatakan, tidak bisa. Abdi mengatakan, para siswa hanya bisa melaksanakan ibadah jika mereka pulang setiap satu pekan sekali. "Mereka boleh dan bebas melaksanakan ibadah jika mereka pulang ke keluarga setiap pekan," kata dia menegaskan.
Terkait tidak bisanya melaksanakan ibadah shalat lima waktu di kamp vokasi diakui oleh para siswa yang sempat ditemui Republika di lembaga vokasi Kota Kasghar. Salah satunya, Rehangul, perempuan suku Uighur ini mengatakan, hanya bisa melaksanakan ibadah shalat jika pulang ke rumah.
"Setiap pekan saya pulang, saya bisa melaksanakan ibadah. Di sini saya tidak shalat," kata Rengahul mengaku.
Pernyataan serupa disampaikan Mehmed, warga Uighur yang juga berada di pusat vokasi Kasghar. Mehmed mengatakan, sudah cukup senang bisa pulang setiap pekan ke rumah. "Saya bisa beribadah dan bertemu keluarga setiap pekan," ujar Mehmed.
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyiddin Junaidi, menyayangkan kondisi dalam kamp tersebut. Ia mengatakan, para peserta pelatihan vokasional juga masih bisa dianggap radikal jika melaksanakan shalat di sela-sela pelajaran.
"Ini tidak sejalan dengan nilai-nilai agama Islam, apalagi mayoritas umat Islam suku Uighur mengikuti mazhab Hanafi yang ketat dalam ibadah ritual," kata Muhyiddin, menanggapi situasi di kamp tersebut.
Seperti tiga mazhab lainnya, mazhab Hanafi tergolong ketat menetapkan kewajiban melaksanakan shalat lima waktu. Lalai menjalankan ibadah itu dengan anggapan bahwa tak wajib dilaksanakan bisa dikenai hukuman kurungan penjara. Meski begitu, harus diakui para penghuni kampvokasi tak melaksanakan shalat bukan karena keinginan mereka sendiri.
Terkait tidak bisanya melaksanakan ibadah shalat lima waktu di kamp vokasi diakui oleh para siswa yang sempat ditemui Republika di lembaga vokasi Kota Kasghar. Salah satunya, Rehangul, perempuan suku Uighur ini mengatakan, hanya bisa melaksanakan ibadah shalat jika pulang ke rumah.
"Setiap pekan saya pulang, saya bisa melaksanakan ibadah. Di sini saya tidak shalat," kata Rengahul mengaku.
Pernyataan serupa disampaikan Mehmed, warga Uighur yang juga berada di pusat vokasi Kasghar. Mehmed mengatakan, sudah cukup senang bisa pulang setiap pekan ke rumah. "Saya bisa beribadah dan bertemu keluarga setiap pekan," ujar Mehmed.
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyiddin Junaidi, menyayangkan kondisi dalam kamp tersebut. Ia mengatakan, para peserta pelatihan vokasional juga masih bisa dianggap radikal jika melaksanakan shalat di sela-sela pelajaran.
"Ini tidak sejalan dengan nilai-nilai agama Islam, apalagi mayoritas umat Islam suku Uighur mengikuti mazhab Hanafi yang ketat dalam ibadah ritual," kata Muhyiddin, menanggapi situasi di kamp tersebut.
Seperti tiga mazhab lainnya, mazhab Hanafi tergolong ketat menetapkan kewajiban melaksanakan shalat lima waktu. Lalai menjalankan ibadah itu dengan anggapan bahwa tak wajib dilaksanakan bisa dikenai hukuman kurungan penjara. Meski begitu, harus diakui para penghuni kampvokasi tak melaksanakan shalat bukan karena keinginan mereka sendiri.
Oleh : Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika
Judul asli : Republika Di Antara Geger The Walstreet Journal dan Uighur
Sumber text & photo : republika.co.id, 14 desember 2019

Komentar
Posting Komentar