Tatkala Imam Abu Hanifah Dinasehati Seorang Bocah


___


Nama beliau Nu’man bin Tsabit, atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Hanifah, salah satu dari empat imam madzab.
___
Suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan beliau berpapasan dengan seorang anak kecil yang berjalan mengenakan sepatu kayu. Melihat anak kecil tersebut sang imam berkata, “Hati-hati, Nak! Jangan sampai kamu tergelincir karena sepatu kayumu itu."

Anak kecil itu pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada imam Abu Hanifah atas nasehatnya. Penasaran dengan orang baik di hadapannya, anak itu bertanya kepada beliau, “Bolehkah saya tahu namamu, Tuan?”

“Namaku Nu’man,” jawab sang imam.

Dengan sedikit terperanjat si anak kecil itu kembali bertanya, “Berarti tuanlah yang selama ini terkenal dengan gelar Al Imam Al A’dham (Imam Agung) itu?”

Sambil sedikit tersenyum sang imam kemudian menjawab, “Bukan aku yang memberi gelar itu, masyarakatlah yang berprasangka baik dan memberi gelar itu kepadaku.”

Mengetahui bahwa orang di depannya adalah seorang imam yang agung, tanpa rasa takut anak kecil itu kembali berkata kepada beliau, “Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai tuan tergelincir ke neraka karena gelar itu!”

“Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke dalam api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya,” lanjutnya dengan nada serius.

Subhanallah.
Mendengar perkataan anak kecil seperti itu, ulama besar yang diikuti banyak umat Islam itupun langsung tersungkur, menangis. Beliau mengingat betapa besarnya tanggung jawab yang diembannya. Imam Abu Hanifah bersyukur, tak disangka sebuah nasehat indah tertuju kepadanya melalui lisan seorang anak kecil.

Saudaraku.
Dari sepenggal cerita di atas kita tentu bisa memetik hikmah dan pelajaran sebagai renungan. 
▪Pertama, jangan karena banyaknya harta, jabatan yang tinggi, gelar yang berjejer, menjadikan kita sombong dan angkuh. Semua itu hanya titipan yang kalau tidak bisa mengelolanya dengan baik justru akan menjerumuskan manusia dalam kehinaan. 
▪Kedua, ketika kita dinasehati, janganlah melihat siapa yang memberi nasehat, tetapi lihatlah isi dari nasehatnya. Ketika sebuah nasehat itu baik, ambillah sekalipun nasehat itu dari seorang anak kecil.

Semoga kita selalu bisa amanah terhadap semua titipan Allah dan menjadi pribadi yang bisa lapang dada menerima masukan atas kekurangan diri kita....

Aamiin yaa Rabbal 'alamin...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?

Menuduh Ibnu Taimiyyah Klenik

Ketika Rasulullah SAW Sedih, Marah dan Melaknat