Ketatnya Sistem Verifikasi Selamatkan Hadits Rasulullah
Sejarah ilmu hadits (musthalahul-hadits) dilatarbelakangi dengan sejumlah dinamika yang terjadi sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Dimana kala itu marak sekali orang yang memanipulasi hadits Rasul dan bahkan membuat hadits-hadits palsu guna mencapai suatu kepentingan.
Kepentingannya beragam, mulai dari sosial, politik, ekonomi, bahkan kepopuleran. Dari sinilah kemudian para sahabat, tabiin, dan tabi' tabi'in, mengembangkan ilmu musthalahul-hadits yang di dalamnya membahas tentang silsilah sanad, rijalul-hadits (asal-usul si pembawa berita/hadis yang diklaim), ilalul-hadis, hingga metode jarhu wa ta’dil.
Elemen-elemen tersebut sangat penting dipelajari untuk mengetahui apakah suatu hadits dapat dikategorikan shahih, hasan, dhaif, atau palsu.
Misalnya, silsilah sanad digunakan untuk membuktikan apakah silsilah sebuah berita dapat bersambung ke Nabi Muhammad SAW atau terputus menjadi penting untuk keabsahan hadits yang dimaksud.
Tak hanya itu, kredibilitas para perawi hadits juga diklasifikasikan dalam kriteria yang tak main-main. Dalam lingkup pesantren umumnya dikenal bahwa kredibilitas perawi hadits disoroti dengan serius oleh para ulama klasik maupun kontemporer.
Sebagai contoh, sikap dan kebiasaan para perawi pun menjadi pertimbangan apakah dirinya dapat diklasifikasikan sebagai perawi dengan tingkat kredibilitas tinggi.
Syaratnya antara lain tidak pernah berbohong barang sekali pun, amanah, hingga tak pernah kentut di sembarang tempat. Terlihat sepele, tapi sesungguhnya dari hal-hal kecil seperti ini pun persyaratan itu harus dipenuhi guna menjaga keabsahan hadits yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Sumber : republika.co.id
Photo : bukalapak

Komentar
Posting Komentar