Sejarah Yahudi, Israel dan Jerussalem
Israel, Begitu gelar yang diberikan bagi Ya’kub bin Ishaq bin
Ibrahim, yang berarti hamba atau kekasih Tuhan. Ia memiliki 12 anak lelaki yang
kelak semua keturunannya ini disebut dalam Al-Qur’an dengan nama Bani Israel.
Keduabelas anak ini berasal dari 4 ibu. Lea melahirkan Ruben, Simeon, Lewi dan
Yehuda. Bilha melahirkan Dan dan Naftali. Zilpa melahirkan Gad dan Asyer.
Sedang Rahel melahirkan Yusuf dan Benyamin.
Dari Al-Qur’an kita memahami bahwa kisah Yusuf dimulai ketika
saudaranya yang mendengki, berkonspirasi menyingkirkan Yusuf dari keluarga
mereka, yang berakhir dijualnya Yusuf sebagai budak, lalu setelah serentetan
fitnah dan ujian, Yusuf menjadi Bendahara yang dipercaya oleh Fir’aun mengatasi
paceklik yang melanda. Singkat cerita, Yusuf lalu memaafkan saudaranya,
mengundang ayah dan saudara-saudaranya untuk tinggal di Mesir.
Bani Israel pun beranak pinak di Mesir, membawa millah Ibrahim, hidup
dan beraktivitas di Mesir sampai Yusuf wafat, selepas itu Fir’aun yang tak suka
dengan tauhid yang dipegang oleh Bani Israel, mulai mendzalimi mereka,
menjadikan mereka budak, sebab bertentangan dengan keyakinan Mesir yang saat
itu memuja dewa-dewi.
Tampillah Musa, anak lelaki yang lolos dari perintah pembunuhan
anak-anak lelaki Bani Israel, yang justru dibesarkan di dalam keluarga kerajaan
Fir’aun. Ia menerima wahyu, lalu memimpin Bani Israel menuju ke tanah yang
dijanjikan oleh Allah di Ardhul Muqaddas (Tanah Suci). Musa lalu memimpin Bani Israel
dengan ragam mukjizat mulai dari tangan yang bercahaya hingga terbelahnya
lautan, namun tetap saja Bani Israel ada yang mengkhianati Musa.
Kita ketahui bahwa Bani Israel yang sudah lama berinteraksi dengan
kebudayaan syirik di Mesir, dan itu mempengaruhi mereka, maka muncullah
sifat-sifat yang tak pernah ada sebelumnya, yakni serakah dan pengecut. Musa
menunjukkan mukjizat yang banyak, tapi tak menghalangi mereka mengolok-olok
Musa saat tentara Fir’aun di belakang mereka dan lautan di depan mereka, bahkan
membuat sesembahan patung sapi untuk disembah saat Musa pergi menerima perintah
Allah.
Walau Bani Israel ini adalah kaum pembangkang, Musa tetap membimbing
mereka. Sampai di hadapan mereka tanah terjanji, mereka diminta oleh Allah
untuk memasuki tanah tersebut, namun mereka menolak, sebab takut akan penduduk
yang mendiami tanah itu, yang mereka sebut gagah perkasa. Lebih kurang ajar
lagi mereka mengatakan pada Musa untuk berperang berdua saja bersama Tuhan,
sedang mereka menunggu sambil duduk saja, bila sudah selesai, mereka baru mau
memasukinya.
Maka Al-Qur’an menyampaikan, sebab tingkah mereka itu, Allah
mengharamkan negeri itu, tanah suci yang sudah dijanjikan itu bagi mereka
selama 40 tahun. Mereka tak mampu memasuki tanah itu melainkan hanya
berputar-putar seperti orang tersesat. Dalam masa itu, berkali-kali Al-Qur’an
menceritakan tentang sikap buruk kaum Musa itu, yakni tidak puas dengan pemberian
Allah, meragukan Allah hingga melihat dengan mata sendiri, dan lain sebagainya.
Wafatlah Harun dan Musa, dan kepemimpinan akan Bani Israel diberikan
pada Nabi Yusya’ bin Nun yang kemudian memimpin Bani Israel memenangkan
peperangan dan masuk ke Ardhul Muqaddas, kemudian membagi wilayah itu menjadi
12 bagian sesuai dengan jumlah anak-anak Israel. Tiap-tiap wilayah ditunjuklah
seorang hakim, dan Nabi Yusya’ sendiri menjadi hakim kepala diantara
mereka.
Masa ini terus berlanjut dengan diwarnai pertikaian diantara mereka,
Nabi Yusya’ wafat dan digantikan Nabi lain. Dan di masa-masa ini, Bani Israel
yang berinteraksi dengan penduduk setempat mulai diwarnai dengan ajaran-ajaran
yang bertentangan dengan ajaran Nabi Yusya’ mulai memiliki sifat yang jelek,
menyelisihi bahkan membunuhi para Nabi, hingga tiba masa Nabi Samuel, hakim
kepala terakhir.
Di masa inilah Bani Israel meminta agar mereka tidak hanya dipimpin
oleh Nabi, tapi juga mempunyai seorang raja, sebagaimana kerajaan yang mereka
jumpai memiliki seorang raja, alasan lain, agar mereka lebih semangat berperang
di jalan Allah. Maka diangkatlah Thalut menjadi raja Bani Israel, namun mereka
pun kembali mengolok-oloknya dengan kata-kata miskin, mereka lebih berhak dan
sebagainya, dan tidak pula mereka berperang sebagaimana janjinya kecuali hanya
segelintir saja.
Zaman para hakim berganti menjadi zaman para raja Bani Israel, hingga
masa Daud yang menjabat Nabi sekaligus raja bagi Bani Israel. Nabi Daud
memiliki keturunan yaitu Nabi Sulaiman, inilah masa kejayaan Bani Israel,
dimana Sulaiman membangun Haikal atau Kuil Suci tempat menyembah Allah di
Baitul Maqdis.
Sepeninggal Nabi Sulaiman, Kerajaan terpecah menjadi dua. Yeroboam yang
merupakan jenderal Bani Israel, tidak menerima kepemimpinan Rehoboam yang merupakan
keturunan Nabi Sulaiman. Dari sini muncul Kerajaan Yehuda dengan ibukotanya
Yerusalem yang dipimpin oleh Rehoboam, dan Kerajaan Israel dengan ibukotanya
Samaria yang dipimpin oleh Yeroboam. Kerajaan Yehuda di bagian selatan didukung
oleh bani Yehuda dan bani Bunyamin, sementara kesepuluh bani lainnya mendukung
Kerajaan Israel di bagian utara.
Perang saudara berkelanjutan pun terjadi, dan situasi ini dimanfaatkan
Kerajaan Assyria yang akhirnya menaklukkan Kerajaan Israel di bagian utara pada
722 SM, lalu mengusir banyak penduduknya, menamatkan Kerajaan Israel dari
dunia, lalu mengepung Yerusalem ibukota Kerajaan Yehuda. Sebelum sempat
menguasai Kerajaan Yehuda, Kerajaan Assyria dikalahkan oleh Kerajaan Babilonia
yang dipimpin Nebukadnezar II, menaklukkan Kerajaan Yehuda pada 597 SM.
Haikal Sulaiman dihancurkan oleh pasukan Babilonia setahun selepasnya
pada 596 M, penduduk-penduduknya dibawa sebagai tawanan ke Babilonia, sisanya
lari ke Mesir dan wilayah sekitarnya. Bani Israel banyak yang hidup di kota
Babilonia sebagai tawanan, namun mereka tetap menjalankan tradisi keagamaan
mereka sebagai orang-orang Kerajaan Yehuda, yang mulai dikenal dengan
kepercayaan Yahudi.
Pada 539 SM Kerajaan Persia menyerbu Babilonia, Raja mereka Cyrus Agung
tidak hanya mengirim pulang tawanan Yahudi, tapi juga mengembalikan Yerusalem
pada mereka, dan memerintahkan mereka untuk kembali membangun Haikal Sulaiman.
Pembangunan ini pun diselesaikan pada 516 SM di masa pemerintanan Darius Agung.
Demikian Yerusalem tetap menjadi kota ibadah bagi kaum Yahudi, berganti
pemerintahan demi pemerintahan, sampai Alexander Agung menaklukkan Persia pada
332 SM, masuklah Yerusalem dan orang-orang Yahudi pada masa penguasaan Imperium
Yunani.
Posisi kaum Yahudi menguat pada masa kekuasaan Yunani, dan dibawah
pemeritahan yang baru mereka berhasil menguatkan dasar-dasar pemerintahn. Akhirnya
kaum Yahudi ortodoks memberontak kepada Antiokhos IV Epiphanes dibawah pimpinan
Matatias dan kelima anaknya pada 168 SM, disusul pendirian Kerajaan Hashmonayim
pada 152 SM oleh Simon Maccabee.
Jenderal Romawi Pompeii, mencatatkan diri untuk turut campur pada
Kerajaan Yahudi baru ini pada 63 SM, hingga pengaruh Romawi bisa membuat
Kerajaan Hashmonayim ini digantikan oleh pemerintahan Romawi sampai pada masa
penguasaan Herodes sekitar 4 M.
Dalam pendudukan Romawi ini, Yahudi sering menjadi korban kedzaliman
penguasa Romawi, pajak yang berlebihan dibalas dengan penyerangan terhadap
opsir Romawi, yang dibalas lagi dengan perusakan tempat-tempat ibadah kaum
Yahudi. Pemberontakan tak terelakkan, yang berakibat pada titah Kaisar
Vespasian untuk memerangi dan menumpas pemberontakan di Yerusalem pada 69 M.
Pimpinannya adalah anaknya sendiri, Jenderal Titus, yang menghabisi
kota Yerusalem pada 70 M, meratakan Haikal Sulaiman yang dibangun kembali pada
masa Darius, membakar dan menghancurkannya hingga tak bersisa kecuali sebidang
tembok yang sekarang diratapi kaum Yahudi.
Tidak selesai sampai disitu, kaum Yahudi terus berkonsolidasi. Di masa
pemerintahan Kaisar Hadrianus, kaum Yahudi menemukan diri mereka kembali
terdzalimi, agama mereka tidak boleh dipraktekkan, lalu mereka menduga bahwa
Kaisar Hadrian akan membuat kuil buat Dewa Jupiter diatas reruntuhan Haikal
Sulaiman yang telah dihancurkan pada 70 M, maka pecahlah pemberontakan Bar
Kokhba pada 132 M yang diselesaikan oleh Kaisar Hadrian pada 135 M.
580.000 orang Yahudi terbunuh dalam penuntasan pemberontakan ini, 50
kota benteng dan 985 desa diratakan dengan tanah. Ini peristiwa penting bagi
sejarah Yahudi . Sebab dari sinilah kaum Yahudi berpencar ke seluruh dunia,
yang dikenal dengan diaspora. Peristiwa ini kelak akan diceritakan turun
temurun, diingat oleh generasi demi generasi, dendam yang akan dibalaskan
kepada dunia pada waktunya, dengan kekejaman yang melebihi semua yang pernah
diingat oleh manusia.
Kota itu diganti namanya oleh Kaisar Hadrian menjadi Aelia Capitolina,
dan daerah Kerajaan Yehuda, yaitu Yudea diganti namanya menjadi
Syria-Palaestina, untuk memberikan wajah baru bagi kota yang kini dikuasai
penuh oleh Romawi, Yahudi tidak boleh memasuki kota ini kecuali setahun sekali
saat mereka merayakan hari raya Tisha B’Av.
Selanjutnya, kaum Yahudi ini menyebar ke segala penjuru dengan Laut
Mediterania sebagai medium penyebarannya. Mereka hidup dan tinggal di masa
Imperium Romawi, yang karena kedzaliman Romawi di satu sisi, juga karena
keserakahan kaumnya disisi yang lain, kaum Yahudi ini selalu mendapatkan
masalah.
Disisi lain, ketika Kaisar Konstantin dari Byzantium berkuasa, ia lalu
menjadikan Yerusalem yang awalnya ibukota Kerajaan Yehuda, menjadi ibukota bagi
penganut Kristen, agama yang baru saja diresmikan sebagai agama negara melalui
Konsili Nicea pada 325 M. Maka wajah Yerusalem berubah, sebab Romawi banyak
mengusir Yahudi di kota itu sehingga seolah-olah yang tinggal disana hanya
orang Kristen. Dibangunlah monumen-monumen penting Kekristenan seperti Gereja
Makam Suci.
Yerusalem jatuh ke tangan Persia pada 614 M dengan bantuan Yahudi,
sejarah mencatat pembantaian banyak orang Kristen pada saat itu, seolah
pembalasan dendam, ikon-ikon Kristen dihancurkan, sampai pada tahun 629 M
Kaisar Heraklius berhasil merebut kembali Yerusalem dan mengembalikan Salib
Suci ke Gereja Makam Kudus.
Saat Nabi Muhammad saw lahir pada 570 M, kaum Yahudi juga sudah
menyebar di pemukiman-pemukiman orang Arab, di Madinah setidaknya ada Yahudi
Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qainuqa. Yahudi terus menerus
memprovokasi kaum Muslim, memunculkan makar untuk mengganggu kaum Muslim,
sampai akhirnya Rasulullah saw mengusir mereka secara permanen dari Haramain.
Orang Arab mengenalnya dengan nama Iliyya, tapi Yahudi masih
menyebutnya dengan Yerusalem. Rasulullah kemudian mengenalkan nama baru bagi
tempat ini, yakni Baitul Maqdis. Disana terdapat Masjidil Aqsha, tempat
Rasulullah melakukan perjalanan malam. Sebagai kiblat pertama kaum Muslim saat
shalat, tempat ini sudah berada di hati mereka yang beriman.
Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, kota ini dikepung oleh Abu
Ubaidah selama 6 bulan, dan akhirnya Patrik Sophronius setuju untuk menyerahkan
kunci, asalkan kepada Khalifah Umar bin Khaththab. Tahun 637 Umar menerima
kunci ini dari Patrik Sophronius, sekaligus menandai perpindahan status tanah
ini dari dikuasai oleh Romawi, menjadi dalam kekuasaan kaum Muslim.
Umar memberikan jaminan bagi penduduk Kristen yang ada disana, juga
mencabut larangan berkunjung bagi Yahudi yang sebelumnya hanya diperbolehkan
setahun sekali mengunjungi Yerusalem. Umar kemudian menata ulang kompleks
Al-Aqsha yang juga menjadi posisi Haikal Sulaiman, dan menjamin semua manusia
bebas beribadah di dalamnya sesuai keyakinan masing-masing.
Begitulah Islam memberikan ketenangan pada Yerusalem, yang lalu lebih
populer dengan Baitul Maqdis. Ketenangan menyelimuti kota para Nabi itu untuk
beratus-ratus tahun lamanya dalam pimpinan Islam dan kaum Muslim.
Tak jauh dari sana, Turki Saljuk, pasukan Muslim yang mulai dikenal di
Anatolia diserang oleh Kaisar Romanos IV Diogenes di Manzikert pada 1071 M.
Pasukan Romawi harus mengakui keunggulan strategi Sultan Alp Arslan yang
memimpin pasukan hanya setengah dari jumlah pasukan Romawi, Kaisar ditawan, lalu
dikembalikan ke Konstantinopel dalam keadaan terhina, dikawal dengan bendera
tauhid.
Kejadian ini kelak akan memicu Perang Salib yang diserukan di Italia.
Pada 1099 M, Yerusalem kemudian dikuasai oleh kaum Kristen, penduduk Muslim dan
Yahudi pun tak luput dari pembantaian. 1187 M Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan
kota ini kembali ke tangan kaum Muslim, dan tetap mengizinkan Yahudi dan
Kristen tetap berada di kota bersama-sama dengan kaum Muslim.
Demikian dari masa Khulafaur Rasyidin, berganti ke Khilafah Umayyah,
Khilafah Abbasiyyah, sampai dengan Khilafah Utsmaniyyah, kaum Muslim
mendapatkan amanah yang sangat besar untuk menjaga kota yang mulia ini.
Di masa kekuasaan Islam, Yahudi diperlakukan dengan baik walau mereka
tak henti membuat makar untuk menjatuhkan kaum Muslim, mereka dilindungi di
negeri-negeri kaum Muslimin, walau di Eropa, mereka seringkali diusir dari
tempat mereka tinggal, tersebab kaum Yahudi ini adalah kaum yang memang sangat
eksklusif dan membuat masalah kemanapun pergi.
Di awal-awal Islam saja, Rasulullah sudah banyak menghadapi makar
Yahudi, yang paling besar tentu saja saat Perang Ahzab. Tidak selesai sampai
disitu, Yahudi menanamkan agen-agennya diantara kaum Muslim yang menyebabkan
terbunuhnya Khalifah Umar, lalu mengadu kaum Muslim dan menimbulkan perpecahan
diantara mereka hingga terbunuhnya Khalifah Utsman dan Khalifah Ali bin Abu
Thalib.
Yahudi terus membuat masalah kemanapun berada, bayangkan saja, dari
tahun 250 – 1948 M, lebih dari 80 kasus pengusiran dan anti-Yahudi terjadi di
belahan Eropa, meliputi Inggris, Prancis, Austria, Jerman, Lithuania, Spanyol,
Portugal, Bohemia, Moravia, dan 71 negara lainnya.
Dalam Al-Qur’an, Allah memberi beberapa contoh keburukan kaum Yahudi
ini, yakni keras hati, dzalim dan fasik, membunuhi para Nabi, bersikap lancang
dan kurang ajar kepada Allah dan para Nabi, melanggar perjanjian, membangkang,
menyembunyikan kebenaran, munafik, senang kemewahan, serakah, sombong dan
memandang rendah manusia selain mereka, melakukan kerusakan di muka bumi, dan
pengecut.
Begitulah manusia manapun tidak akan tahan dengan sifat yang semisal
ini. Namun dilain sisi kaum Yahudi juga pekerja keras, pintar dan bersatu
diantara mereka, hingga mereka mampu menguasai porsi yang besar dari kekuatan
finansial, hingga mereka memiliki daya tawar yang sangat besar di dunia.
Al-Qur’an dan Al-Hadits juga terbukti benar, bahwa kaum Yahudi ini
sangat tidak ridha dengan kaum Muslim, dan melakukan apapun untuk menghancurkan
kaum Muslim, salah satunya dengan terlibat aktif dalam studi Orientalisme yang
dumulai pada abag ke-14, sebagai bagian dari perang pemikiran untuk mencari
kelemahan kaum Muslim lalu menghancurkan kaum Muslim dari situ.
Maka mereka mendapatkan racun-racun yang bisa mereka susupkan pada kaum
Muslim, dan memulai pembusukan dari dalam. Mereka memberikan racun pemikiran
liberalisme, kritik pada autensitas Al-Qur’an dan Al-Hadits, ilmu kalam,
menanamkan kebanggaan ashabiyyah termasuk di dalamnya nasionalisme, serta
banyak hal lainnya.
Perang pemikiran ini berhasil, kaum Muslim menjadi melemah, dan
Khilafah Islam yang merupakan kesatuan Islam di masa itu mulai rapuh,
disebabkan ada usaha pemberontakan dan memisahkan diri dari tubuh yang satu
akibat racun sukuisme dan nasionalisme. Belum lagi karena kelemahan internal
kaum Muslim yang memang saat itu sudah jumud dan justru tercengang dengan
kemajuan barat sejak Rennaisance, semuanya menyebabkan Khilafah Islam Utsmani
yang berpusat di Istanbul seolah seperti orang sakit, Sick Man of Europe.
Tahun 1860 Lahir seorang Yahudi berkebangsaan Hungaria yang kelak akan
dikenal sebagai Bapak Zionis, Theodore Herzl. Yang menulis buku Der Judenstaat
pada 1896 yang berarti Negara Yahudi. Sebuah entitas yang mereka damba-dambakan
setelah hampir 900 tahun lamanya mereka hidup seperti gelandangan, tanpa
kesatuan dan tanpa tanah air, Herzl ingin mengembalikan kembali kejayaan
Kerajaan Yehuda.
Dalam bukunya itu dia menulis visinya “Karenanya aku meyakini bahwa
generasi cemerlang dari kaum Yahudi akan kembali bersemi, Maccabeans (Yahudi
pendiri Kerajaan Hashmonayim) akan kembali bangkit. Mari aku ulangi sekali lagi
kalimat pembukaku, kaum Yahudi yang menginginkan negara sendiri, akan
memilikinya”.
1897. Diselenggarakanlah Konggres Zionis I di Basel, tidak lanjutnya
adalah mengumpulkan uang untuk membeli tanah untuk cikal bakal Negara Yahudi.
Tentu saja tanah yang dipilih adalah Tanah Terjanji, yaitu Palestina, dengan
Yerusalem sebagai ibukotanya, seperti dulu Kerajaan Yehuda. Sponsor sudah
mereka dapatkan, yakni keluarga Yahudi yang menguasai perbankan hampir di
seluruh Eropa, keluarga Rothchilds.
Datanglah dia ke Istanbul untuk menemui pucuk pimpinan Khilafah
Utsmani, yang dianggap empunya tanah Palestina yang mereka incar, mereka
sampaikan rencana mereka pada Abdul Hamid II, Khalifah kaum Muslim saat itu,
dengan iming-iming akan membantu pembayaran hutang Khilafah Ustmani yang saat
itu memang membengkak.
Sultan Abdul Hamid II tak ingin menemui Herzl, mengirim pesan
kepadanya:
“Beritahu pada para Yahudi yang tak sopan itu, bahwasanya hutang-hutang
Utsmani itu bukan merupakan suatu hal yang hina, Prancis pun memiliki hutang
dan tidak mempengaruhi mereka, Yerusalem adalah bagian dari tanah kaum Muslim
sejak Khalifah Umar menerima tanah itu, dan aku tidak ingin menanggung malu dan
beban sejarah dengan menjual tanah suci itu pada Yahudi, lalu mengkhianati
amanah dan kepercayaan ummat. Yahudi simpan saja harta mereka, sebab Utsmani
tidak akan bersembunyi di balik istana-istana yang dibuat dari uang musuh-musuh
Islam”.
1901. Yahudi kembali. Impian itu tidak main-main, kaum Yahudi mencapai
puncak kekuatan finansial sebab mengendalikan perbankan, uang bukan masalah
bagi mereka. Ditawarkanlah 150 juta pound di masa itu pada Utsmani, setara
dengan minimal 305 trilyun rupiah di masa sekarang. Berikut bonus membangun
Universitas Utsmani dan kapal perang.
Maka disampaikan lagi pesan dari Sultan Abdul Hamid II kepada
Herzl,
“Nasihati Dr. Herzl, agar jangan sekali-kali lagi meneruskan proyek
ini. Aku tak bisa berikan tanah itu, tanah itu bukan milikku, Tanah itu milik
ummat, yang telah berjihad dan telah menyiraminya dengan darah mereka, yahudi
silakan simpan uang mereka. Jika Khilafah Islam dimusnahkan pada suatu hari,
maka mereka boleh mengambil tanah Palestina tanpa membayar. Akan tetapi, sementara
aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku, daripada tanah
itu dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islam. Aku tidak akan memulai
pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup".
1914. Khilafah Utsmani terjebak mengikuti perang dunia pertama yang
berakhir pada kekalahan pihak Jerman dan Khilafah, setelah itu wilayah khilafah
dipecah menjadi negara-negara yang lebih kecil dan diserahkan kepengurusannya
kepada UK dan Prancis selaku sekutu pemenang perang. Dari sinilah petaka kaum muslimin
dimulai.
1916. Pasca Perang Dunia 1, Inggris dan Perancis menandatangani
perjanjian Sykes-Picot membagi wilayah Muslim setelah Khilafah Utsmani
(Ottoman) kalah. Mengetahui perkembangan ini, Lord Lionel Walter Rothcilds
segera menyurati pemerintah Inggris, berkonsultasi tenatng keinginannya dan
gerakan Zionis untuk tinggal di tanah Palestina seperti ajuan Herzl.
Pada tanggal 2 November 1917, pemerintahan Inggris menyetujui pendirian
Negara Yahudi di tanah Palestina lewat Deklarasi Balfour. Deklarasi ini
sekaligus mengawali pemerintahan militer di tanah Palestina dengan Jendral
Allenby yang ditugaskan Inggris untuk melindungi eksodus penjajah Yahudi ke
tanah Palestina.
Begini Bunyi Deklarasi Balfour,
Departemen Luar Negeri 2 November 1917
Lord Rothschild yang terhormat, Saya sangat senang dalam menyampaikan
kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda, pernyataan simpati terhadap
aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh kabinet.
“Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina
tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha keras terbaik mereka
untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada
suatupun yang boleh dilakukan yang dapat merugikan hak-hak penduduk dan
keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun
hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara
lainnya”.
Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini
untuk diketahui oleh Federasi Zionis.
Salam, Arthur James Balfour.
Tak lama setelah itu, pada Desember 1922. Liga Bangsa Bangsa (League of
Nations) yaitu cikal bakal PBB (United Nations), kemudian memberikan landasan
yudisial yang lebih kuat bagi Inggris dengan memberikan mandat pengaturan
wilayah Palestina (Mandate For Palestine).
Setelah itu, eksodus kaum Yahudi pun meningkat pesat, sedikitnya 1,3
juta kaum Yahudi bermigrasi dari seluruh dunia ke tanah Palestina, sejak saat
itu, kaum Muslim di Palestina menjadi stateless (tidak memiliki negara dan hak
asasi manusia), diusir dan dibunuh tanpa ada pembelaan dari siapapun.
Puncaknya, pada 29 November 1947, PBB mengumumkan persetujuan
berdirinya negara Israel yang diamini oleh Amerika Serikat yang baru menjadi
pemimpin dunia dengan memenangi Perang Dunia 2, keputusan PBB Itu bahwa wilayah
Israel yang meliputi 55% tanah Palestina, yang diikuti dengan deklarasi
pendirian negara Israel oleh PM pertama David Ben-Gurion pada, yang segera
melakukan pengusiran dan pembunuhan lebih besar lagi kepada kaum muslim di
Palestina.
Setelah Negara Israel berdiri, negara-negara tetangga Palestina yaitu
Mesir, Yordan, Libanon dan Siria mengumumkan perang kepada Israel, perang ini
terjadi pada tahun 1948, 1956, 1967 dan 1973. Perang Arab-Israel ini
banyak sekali tipudaya di dalamnya dan hanya membuat mitos seolah-olah Israel
tidak terkalahkan, dan ini juga bukti pengkhianatan pemimpin-pemimpin muslim
(Mesir, Yordan dan Libanon) di wilayah tetangga Palestina.
Terlebih setelah perang 6 hari di tahun 1967, wilayah Israel bahkan
bertambah menjadi 70%. Dan setelah itu, hingga hari ini, Israel dengan brutal
menginvasi wilayah Palestina hingga menguasai lebih dari 90% wilayah Palestina.
Silakan di daftar sendiri kekejaman dan kebiadaban yang ditunjukkan oleh Negara
Israel dan sekutunya, maka kita akan mengetahui, beginilah ketika kaum yang
dimurkai Allah memiliki kekuasaan.
Sekarang kita mengetahui, bahwa Inggris adalah yang pertama kali
memberikan jalan kepada Yahudi untuk masuk ke tanah Palestina dan membuat
konflik lewat keputusan Liga Bangsa-Bangsa. Setelah Perang Dunia 2, Amerika
Serikat melalui Persekutuan Bangsa-Bangsa memberi nyawa kepada Negara Israel.
Ibarat keluarga, Negara Israel itu bapaknya Inggris, ibunya Amerika, bidannya
PBB.
Dan kita juga jadi mengetahui bahwa solusi bagi konflik
Israel-Palestina bukanlah pendirian 2 negara sebagaimana yang diusulkan oleh
Amerika dan PBB, yang tiap resolusinya pun selalu dicurangi oleh Israel, yang
tiap tahun mereka senantiasa melakukan penjarahan tanah kaum Muslim.
Masalahnya adalah penjajahan, Israel tak punya hak atas sejengkal pun
tanah disana. Jangankan Baitul Maqdis, Tel. Aviv saja bukan milik mereka, sebab
mereka hanya penjajah yang mengambil tanah kaum Muslim, penjarah yang membunuhi
para lelakinya dan mengambil kehormatan para wanitanya.
Kita juga jadi mengetahui secara jelas, ini bukan tentang perang
saudara, atau hanya terbatas urusan politik, tapi ini adalah tentang agama.
Yahudi dengan sangat jelas mendasarkan pilihan mereka pada tanah Palestina
berdasarkan agama yang mereka yakini, agama yang mereka perjuangkan,
berdasarkan kitab yang mereka pegang dan percaya, mengapa kita tega mengatakan
bahwa ini adalah konflik politik, jelas-jelas ini penjajahan berdasarkan agama.
Bagi ummat Islam, ini pun tentang aqidah yang mereka yakini, bahwasanya
Yahudi ini adalah musuh paling sengit bagi kaum Muslim, yang sudah membuat
makar pada waktu yang lalu, senantiasa membuat makar, dan akan membuat makar
lagi di masa depan, sebab di akhir zaman Rasulullah sampaikan bahwa kita akan
berperang dengan kaum Yahudi.
Jelas pula Rasulullah menyampaikan dalam hadits-haditsnya yang mulia
tentang keistimewaan tanah Syam dan penduduknya, kelebihan Baitul Maqdis,
bahwasanya dia akan menjadi pusat dari Negeri Kaum Mukmin. Bagaimana Masjidil
Aqsha dan tanah berkah yang melingkupinya juga disebutkan dalam Al-Qur’an. Ini
semua adalah bagian dari agama kita. Kecintaan kita pada Baitul Maqdis berbagi
juga dengan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.
Pertanyaan yang muncul sekarang adalah, bagaimana solusi total masalah
Palestina? Kepada siapakah ummat Islam bisa berharap?
Kepada PBB? Ini mustahil karena justru PBB adalah organisasi yang
justru memberikan persetujuan dan pengakuan terhadap Israel. Faktanya, sampai
sekarang PBB tidak pernah memberikan sanksi kejahatan perang yang telah
dilakukan oleh AS dan Israel.
Kepada organisasi HAM dan Demokrasi? inipun bathil, karena HAM dan
Demokrasi adalah alat barat yang berstandar ganda, yang hanya berpihak apabila
sang empunya yang mendapatkan masalah, dan hanya digunakan untuk menyudutkan
kaum muslim.
Kepada AS? Apalagi, karena merekalah selama ini yang menganakemaskan
Israel dan memberikan bantuan baik secara fisik dan pengaruh. Obama dalam
pidatonya di AIPAC dengan jelas menyampaikan
“Saya berjanji kepada Anda, bahwa saya akan melakukan apapun yang saya
bisa dalam kapasitas apapun, untuk tidak hanya menjamin keamanan Israel, tapi
juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak
mimpi yang dibuat 60 tahun lalu”.
Tidak hanya itu, Obama pun menjamin dana USD 30 miliar untuk membantu
persenjataan Israel. Pendahulu Obama, Bush juga mengatakan dengan nada yang
serupa ketika menyalahkan HAMAS dalam invasi Israel ke jalur Gaza. Semua
pimpinan Amerika senantiasa pada posisi yang sama, jadi jangan heran bila
Presiden Trump mengumumkan Yerusalem adalah ibukota Israel, itulah cita-cita
mereka sedari dulu.
Bila kita mau jujur melihat pada akar masalahnya, maka kita bisa
mengetahui sedari awal bahwa bangkitnya Yahudi sampai mereka mampu mendirikan
sebuah Negara Israel adalah karena kaum Muslim terpecah belah, dan tidak lagi
disatukan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selama kaum Muslim bersatu dalam
agamanya dalam kepemimpinan Khilafah, maka tanah Palestina dan tanah-tanah kaum
Muslim yang lain masih bisa dipertahankan, sebab kita mampu melawan dengan
fisik.
Sebab bila seperti saat ini, kaum Muslim terpecah-belah dan tidak
memiliki kekuatan sebab mereka tidak jadi ummat yang satu, mereka berselisih
hingga Allah mencabut ketakutan dalam diri musuh-musuh Islam, sehingga mereka
bisa bertindak semaunya dan sesukanya.
Namun, kita berharap bahwa momen ini menjadi momen persatuan diantara
kaum Muslim, yang mulai menyadari bahwa persatuan adalah hal yang tidak bisa
ditawar-tawar lagi pada saat-saat seperti sekarang ketika kaum Muslim
diperlakukan semena-mena.
Baitul Maqdis adalah milik kaum Muslim, dan tidak akan diserahkan pada
siapapun, sebab Allah yang menaruh kecintaan pada tanah itu langsung ke dalam
hati mereka yang beriman, maka siapapun yang tidak terpanggil saat Baitul
Maqdis ingin dijarah, mereka perlu bertanya, “Bila Allah dan Rasul
menyebut-nyebut tempat itu, mengapa tak ada bagi kita kepedulian barang
sedikit?”.
Hanya persatuan itu bukan hadiah yang bisa ditebus dengan harga yang
sedikit. Kita harus membuktikan pada Allah bahwa kita layak mendapatkannya.
Terkadang ini harus dibuktikan dengan lapang dadanya kita untuk bisa bersabar
dan berjuang bersama kelompok-kelompok kaum Muslim yang lain. Bisa jadi juga
kita buktikan dengan tak lelah menetapi momen-momen persatuan, sampai Allah
memutuskan bahwa persatuan itu diberikan pada kita, lalu kita bisa dibangkitkan
dengan Islam.
Dan esok, 17 Desember 2017 adalah salah satu momen persatuan itu.
Indonesia, negeri kaum Muslim terbesar di dunia ditantang untuk membuktikan
persatuan-persatuan kecil kaum Muslim sebelum Allah memberikan ikatan hati
Muslim seluruh dunia. Dunia Islam kini mengarakan pandangannya pada Indonesia,
satu-satunya bagian kaum Muslim dunia yang belum diberikan giliran untuk
memimpin kaum Muslim di seluruh dunia. (*)

Komentar
Posting Komentar