Saat Khalifah Umar Memberhentikan Khalid
“Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja, saya menerima surat
pemecatan. Apa betul saya dipecat?”
“Walaikumsalam warahmatullah...Betul Khalid,” jawab Khalifah.
“Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh
tahu, kesalahan saya apa?”
“Kamu tidak punya kesalahan.”
“Kalu tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu
menjadi panglima?”
“Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik.”
“Lalu kenapa saya dipecat?” tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan
rasa penasarannya.
Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, “Khalid, Anda itu
jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah Anda
pimpin, dan tak pernah satu kalipun Anda kalah. Setiap hari masyarakat dan
prajurit selalu menyanjung Anda. Tak pernah saya mendengar orang
menjelek-jelekkan Anda. Tapi, ingat Khalid, Anda juga adalah manusia biasa.
Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong
dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong.
Seberat debu rasa sombong di dalam hati, maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena
itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini Anda saya
pecat. Supaya Anda tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja Anda
tak bisa berbuat apa-apa.”
Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid bin Walid tertegun, bergetar, dan goyah.
Dan dengan segenap kekuatan yang Ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.
Sambil menangis beliau berbisik, “Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!”
Bayangkan sahabat, jenderal mana yang berlaku mulia seperti
itu? Mengucapkan terima kasih setelah dipecat. Padahal beliau tak berbuat
kesalahan apapun. Adakah jenderal yang mampu berlaku mulia seperti itu saat
ini?
Hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi,
tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa,
sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya sebelumnya.
Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang
gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal
sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, “Ya Jenderal, mengapa
Anda masih mau berperang, padahal Anda sudah dipecat?”
Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, “Saya berperang bukan karena
jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata
karena mencari keridhaan Allah.”
Subhanallah...!!

Komentar
Posting Komentar