Pendidikan Berkarakter dan Kompeten di Era Digital
Beberapa hari lalu didalam grab saya terlibat pembicaraan menarik soal investor jepang yang baru mengucurkan dana dalam jumlah besar untuk sebuah startup pendidikan yang mulai terkenal di negeri ini. Sebagai orangtua dari anak yg sedang menatap masa depan, sungguh saya kesemsem dengan fitur startup itu yang sungguh canggih dan sesuai dengan karakter belajar anak kami yang belajar dengan cepat kalau menggunakan media visual. Dan memutuskan berlangganan 1 thn, 2 akun sekaligus.
Disaat yang sama rekan bisnis saya itu kemudian bercerita tentang gagalnya perusahaan startup yg lain mendapatkan dana dari pemodal Malaysia, yang ternyata masih memegang dengan erat konsep pendidikan bahwa pendidikan itu adalah bukan sekedar transfer ilmu, tapi ada nilai nilai yang harus dipindahkan dari pendidik kepada anak didik. Apa nilai-nilai itu ? Dia berupa karakter (sikap, adab, dll) yang tidak mungkin bisa ditularkan tanpa tatap muka.
Malam ini saya dapat ilmu baru dari ust Ismail Yusanto bahwa pendidikan itu pada intinya adalah usaha menjadikan orang lebih baik. Menjadi lebih baik tergantung pada 2 istilah utama yaitu karakter dan kompetensi. Bagaimana karakter yg hendak dituju ? Oleh sebab itu iman dan taqwa menjadi salah satu tujuan pendidikan nasional. Terus bagaimana dengan kompetensi yang kemudian menghasilan lulusan yang cocok dengan lapangan kerja, link dan match, dll ? Kompetensi sangat penting, tetapi biasanya akan terkait dengan yang lain, semisal pengangguran itu bukan semata karena pendidikan, tapi ada sebab lain. Lalu apa pentingnya kita bicara karakter ? Karena banyak masalah negeri seperti korupsi, kerusuhan dimana mana, kriminalitas semua soal karakter.
Oleh sebab itu pendidikan hendaknya menghasilkan manusia yang utuh sesuai dengan sesuai dengan kodrat penciptaan manusia, bukan sekedar pendidikan yg bermuara pada pasar dimana mereka akan bekerja hanya sebagai baut-baut industri kapitalis atau birokrasi, Oleh sebab itu bicara pendidikan harus dimulai dari urutan filosofis, konsepsi, strategi dan terakhir alat. Alat-alat itu sekarang bisa berupa teknologi digital, dll.
Tampaknya pendapat ust Ismail Yusanto menemukan momentum yang tepat. Di bidang IT yang saya geluti acapkali susah mencari rekan kerja yang tetap. Anak-anak programmer, desain, engineer muda, pinter, cerdas banyak sekali, tetapi dalam bekerja banyak yg acapkali semaunya, tidak bisa diatur, tidak bisa menepati janji, tidak ada adab dalam berbicara dengan yg lebih tua, dll masalah karakter.
Akhirnya pendidikan memang tidak sebatas kompetensi semoga ini disadari oleh pengambil kebijakan negeri ini.
Aamiin
KALIBATA, 29/10/2019
Iqri Sulizar H
Disaat yang sama rekan bisnis saya itu kemudian bercerita tentang gagalnya perusahaan startup yg lain mendapatkan dana dari pemodal Malaysia, yang ternyata masih memegang dengan erat konsep pendidikan bahwa pendidikan itu adalah bukan sekedar transfer ilmu, tapi ada nilai nilai yang harus dipindahkan dari pendidik kepada anak didik. Apa nilai-nilai itu ? Dia berupa karakter (sikap, adab, dll) yang tidak mungkin bisa ditularkan tanpa tatap muka.
Malam ini saya dapat ilmu baru dari ust Ismail Yusanto bahwa pendidikan itu pada intinya adalah usaha menjadikan orang lebih baik. Menjadi lebih baik tergantung pada 2 istilah utama yaitu karakter dan kompetensi. Bagaimana karakter yg hendak dituju ? Oleh sebab itu iman dan taqwa menjadi salah satu tujuan pendidikan nasional. Terus bagaimana dengan kompetensi yang kemudian menghasilan lulusan yang cocok dengan lapangan kerja, link dan match, dll ? Kompetensi sangat penting, tetapi biasanya akan terkait dengan yang lain, semisal pengangguran itu bukan semata karena pendidikan, tapi ada sebab lain. Lalu apa pentingnya kita bicara karakter ? Karena banyak masalah negeri seperti korupsi, kerusuhan dimana mana, kriminalitas semua soal karakter.
Oleh sebab itu pendidikan hendaknya menghasilkan manusia yang utuh sesuai dengan sesuai dengan kodrat penciptaan manusia, bukan sekedar pendidikan yg bermuara pada pasar dimana mereka akan bekerja hanya sebagai baut-baut industri kapitalis atau birokrasi, Oleh sebab itu bicara pendidikan harus dimulai dari urutan filosofis, konsepsi, strategi dan terakhir alat. Alat-alat itu sekarang bisa berupa teknologi digital, dll.
Tampaknya pendapat ust Ismail Yusanto menemukan momentum yang tepat. Di bidang IT yang saya geluti acapkali susah mencari rekan kerja yang tetap. Anak-anak programmer, desain, engineer muda, pinter, cerdas banyak sekali, tetapi dalam bekerja banyak yg acapkali semaunya, tidak bisa diatur, tidak bisa menepati janji, tidak ada adab dalam berbicara dengan yg lebih tua, dll masalah karakter.
Akhirnya pendidikan memang tidak sebatas kompetensi semoga ini disadari oleh pengambil kebijakan negeri ini.
Aamiin
KALIBATA, 29/10/2019
Iqri Sulizar H

Komentar
Posting Komentar