Membangun Kerjasama Antara Orangtua dan Sekolah


Kerjasama artinya saling mendukung, membantu, dan mengingatkan antara team untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam hal ini, team yang dimaksud adalah orang tua dan guru.

Tujuan yang ingin dicapai adalah dalam hal pendidikan anak. Baik pendidikan moral, karakter, agama, maupun akademis. Harapannya tentu agar anak memiliki pemahaman moral yang baik, karakter positif, patuh pada perintah agama, dan   memiliki pengetahuan yang luas.

Untuk mewujudkan itu, tentu butuh kerja sama yang baik antara orang tua dan guru di sekolah. Orang tua menitipkan anak di sekolah tentu berharap anak mendapat pendidikan yang baik. Begitu pun para guru, juga berharap orang tua memberikan dukungan dan turut berpartisipasi dalam mendidik dan mendampingi anak di rumah.

Untuk mewujudkan itu, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, antara lain:

Pertama,  memahami visi dan misi sekolah.

Orang tua perlu mengetahui visi misi sekolah saat akan mendaftarkan putra-putrinya. Pastikan bahwa visi misi sekolah sejalan dengan harapan orang tua.

Pihak sekolah bisa memanfaatkan momen daftar ulang untuk menyampaikan visi misi ini kepada orang tua dan mensosialisasikan program ataupun harapan dari pihak sekolah kepada orang tua yang berkaitan dengan pendidikan anak.

Ini bisa disampaikan di awal. Agar sejak awal baik sekolah maupun orang tua memiliki pemahaman yang sama dan sejalan.

Kedua, dalam proses pendidikan yang berjalan, orang tua dapat memberikan kritik dan saran kepada pihak sekolah terkait perkembangan anak, dan harapan yang diinginkan kepada guru dan sekolah.

Begitu pula sebaliknya, pihak sekolah pun hendaknya terbuka dan bersedia memberikan masukan kepada orang tua, terkait perkembangan siswa di sekolah.

Ketiga, membangun komunikasi yang produktif antara orang tua dan sekolah.
Komunikasi yang bertujuan untuk membangun dan perbaikan bersama, bukan untuk saling menyalahkan satu dan lainnya.

Ketika pun ada "masalah" pada anak, dapat dibicarakan bersama dengan saling terbuka untuk mendapat jalan keluar yang terbaik.

Kendala dalam hubungan orang tua dan sekolah sering kali muncul manakala:

 1. Orang tua merasa "tidak terima" atas teguran atau pun masukan yang diberikan pihak sekolah terkait kondisi anak.

2. Orang tua kurang  peduli dengan program kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah. Misal: tidak menghadiri undangan kegiatan dari sekolah.

3. Orang tua memasrahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah.
Kendala ini tentu akan sangat menghambat proses pendidikan anak.

Ada masukan dari sekolah, semestinya orang tua membuka diri dan bersyukur. Artinya ada yang perlu dibenahi, baik dari sisi anak maupun orang tua.

Ada undangan dari sekolah, mestinya orang tua berusaha meluangkan waktu dan menjadikannya sebagai prioritas.

Satu sisi pastinya ada info yang ingin disosialisasikan dari pihak sekolah. Sehingga momen ini bisa digunakan orang tua untuk bertanya banyak hal terkait perkembangan anak.

Sisi lainnya, undangan terkait pertunjukkan anak di sekolah. Tentu anak sangat berharap kehadiran orang tuanya saat ia tampil dan unjuk kebolehan. Momen ini sangat berharga bagi anak bila didukung dengan kehadiran orang tua.

Orang tua hendaknya paham dan menyadari bahwa tugas dan tanggung jawab utama dalam pendidikan anak adalah terletak pada orang tua, di rumah.

Sekolah sebagai "sarana tambahan" untuk anak memperoleh pendidikan, bukan sarana utama. Pondasi awal tetap berasal dari Rumah, dari orang tua.

Kesadaran ini akan mampu meminimalisir pemikiran untuk menyalahkan orang lain jika ada yang "bermasalah" pada diri anak.

Orang tua hendaknya memahami bahwa segala yang muncul pada diri anak, dipengaruhi oleh pola pendidikan yang diberikan oleh orang tua di rumah.

Untuk itu, orang tua penting untuk terus belajar, memperbaiki pola asuh dalam mendidik anak agar menjadi lebih baik lagi.

Oleh : Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi, Psikolog
By: Parenting School Indonesia

#parentingschool
#positiveconsulting
Sukmadiarti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?

Menuduh Ibnu Taimiyyah Klenik

Ketika Rasulullah SAW Sedih, Marah dan Melaknat