Kisah Teladan Nafsu Tersembunyi
π¬Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan
sebuah kisah menarik. Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah
dari kota Bashra, Irak. Beliau bercerita:
πAku pernah diuji dengan kemiskinan pada
tahun 219 Hijriyah. Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara
aku harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar
terbiasa mengiringi hari-hari kami.
Maka aku bertekad untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun
berjalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku.
Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku.
Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: “Berikan
makanan ini kepada keluargamu.”
Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita fakir
bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia
memohon:
“Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan
rasa lapar yang melilit. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga
Allah merahmati Tuan.”
Sementara itu, si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan
kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan fikiranku dalam
khayalan ukhrowi, seolah-olah surga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada
siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin
dan ibunya ini.
Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. “Ambillah,
beri dia makan”, kataku pada si ibu.
Demi Allah, padahal waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham
kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat membutuhkan makanan itu.
Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecilpun tersenyum
indah bak purnama.
Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku, sementara
beban hidup terus bergelayutan dipikiranku.
πSejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah
dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah. Dalam posisi seperti
itu, tiba-tiba Abu Nashr dengan kegirangan mendatangiku.
“Hei, Abu Muhammad...! Kenapa kau duduk-duduk di sini sementara
limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?” tanyanya.
“Subhanallah....!” jawabku kaget. “Dari mana datangnya?”
“Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya-tanya tentang ayahmu
atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa berduyun-duyun
angkutan barang penuh berisi harta,” ujarnya.
“Terus?” tanyaku keheranan.
“Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashra ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu
pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun.
Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta
ayahmu.
Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Di sana, kondisi
ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melejit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan lahan
pergi, berganti dengan limpahan kekayaan.
Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon
keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu.
Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan
niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan
semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya.”
πDengan perubahan drastis nasib hidupnya ini,
Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya:
“Kalimat puji dan syukur kepada Allah berdesakan meluncur dari lisanku.
Sebagai bentuk syukur. Segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi. Aku
menyantuni dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup.
Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan
sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal salih. Adapun hartaku, terus
bertambah melimpah ruah tanpa berkurang.
Tanpa sadar, aku merasa takjub dengan amal shalihku. Aku merasa, telah
mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan. Ada semacam
harapan pasti dalam diri, bahwa namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah
dalam daftar orang orang shalih.
πSuatu malam, aku tidur dan
bermimpi. Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat. Aku juga
lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk danberbenturan satu sama lain.
Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa-dosa pada hari itu berwujud
dan berupa, dan setiap orang memanggul dosa-dosa itu masing-masing di
punggungnya.
Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya
beban besar seukuran kota Basrah, isinya hanyalah dosa-dosa dan hal-hal yang
menghinakan.
Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk
perhitungan amal.
Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu sisi timbangan, sedangkan
amal baikku di sisi timbangan yang lain. Ternyata, amal burukku jauh lebih
berat daripada amal baikku..!
Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka mulai menaruh satu
persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan.
Namun alangkah ruginya aku. Ternyata dibalik semua amal itu terdapat
NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu adalah riya, ingin dipuji, merasa
bangga dengan amal shalih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk
lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang lepas dari nafsu-nafsu itu.
Aku putus asa.
Aku yakin aku akan binasa.
Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka.
Tiba-tiba, aku mendengar suara, ‘Masihkah orang ini punya amal baik?’
‘Masih..,’ jawab suara lain. ‘Masih tersisa ini.’
Aku pun penasaran, amal baik apa gerangan yang masih tersisa? Aku berusaha
melihatnya.
Ternyata, itu HANYALAH dua lembar roti isi manisan yang pernah
kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.
Habis sudah harapanku...
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sejadi-jadinya.
Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku, sedangkan dulu
aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas =
Rp 250 juta), dan itu tidak berguna sedikit pun. Aku merasa benar-benar tertipu
habis-habisan.
Segera 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku. Tak kusangka, ternyata
timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak
turun sampai-sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekanku.
Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku. Yaitu berupa air
mata wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah. Air mata tak
terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu
lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku.
Sungguh tak terbayang, saat air mata itu ditaruh, ternyata timbangan
baikku semakin turun dan terus memberat. Hingga akhirnya aku mendengar suatu
suara berkata, ‘Orang ini selamat dari siksa neraka..!’”
πΊπ»πΊπ»
Saudara-saudariku tercinta...
Masih adakah terselip dalam hati kita nafsu ingin dilihat hebat oleh
orang lain pada ibadah dan amal-amal kita..?
πUst. Abu Umar Abdillah Alkaff
Sedikit tambahan Alfaqir
Nafsu dalam kemaksiatan sangatlah Jelas Tampak, tapi Nafsu dalam
Ketaatan sangatlah samar......
Berhati-hatilah
Tolong share ke para suami, saudara laki2, anak laki2, paman, kakek,
sepupu laki2 & yang merasa laki2 sebagai bentuk cinta & sayang kita...πππ

Komentar
Posting Komentar