Belajar dari Persatuan Eropa


Wartawan asal Arab Saudi Ahmad Al-Shugairi keliling Eropa. Lewat program televisinya "Khawatir" Shugairi mengajarkan agar kita mengambil pelajaran yg baik dari bangsa Eropa.
Eropa adalah bangsa yang bisa mengambil pelajaran dari sejarahnya. Sementara kita umat Islam tidak.

Menakjubkan...!!!!

Ada 28 negara Eropa yg beda agama, ras, politik, dan bahasa, berhasil bersatu membentuk masyarakat bersama, dan 19 di antaranya memiliki mata uang bersama (Euro). 

Penduduk antar negara Eropa bebas tinggal dan bekerja di negara Eropa yg lain. Padahal (sekali lagi) bahasa mereka berbeda, agama, aliran, ras, dan suku mereka juga berbeda-beda.

Bahkan perbatasan antar negara-negara itu hanya sekedar garis, atau marka saja (tanpa pagar kawat berduri atau tembok). Sehingga Ahmad Al-Shugairi ter-heran2 melihat ada rumah yg separoh masuk wilayah Belanda dan separohnya masuk wilayah Belgia. 

Si ibu yang empunya rumah menjelaskan, bahwa berbagai hal yang menyangkut perlakuan dua negara (seperti listrik atau pajak) masing2 sudah diatur rapi. Sama sekali gak ada permasalahan yang krusial.

Di perbatasan Perancis dan Swiss, Shugairi menunjukkan tanda pembatas yg hanya berupa marka, dan jenis aspal yg berbeda. Sedangkan kendaraan saling melintas batas secara santai, tanpa masalah...

Sementara itu, 22 negara Arab yg mempunyai :
• bahasa yg sama,
• agama yg sama,
• ras yg serupa,

sampai sekarang masih :

• saling cakar2-an,
• saling fitnah, dan
• saling bunuh (berperang).

Begitu juga dengan umat Islam, tdk bisa bersatu, padahal Nabi saw mengatakan :
"Sesama muslim saudara, bagaikan satu jasad."


Kenapa mereka bisa bersatu, sementara kita umat Islam tdk bisa bersatu ?
Karena hawa nafsu kita lebih besar dari akal sehat kita...

Padahal Allah SWT berfirman :
"Berpeganglah kalian bersama-sama pada ‘tali Allah’, dan janganlah saling bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah yang dianugerahkan-Nya pada kalian, ketika kalian saling bermusuhan, maka Dia mendekatkan di antara hati kalian (satu sama lain) sehingga kalian merasakan nikmat (dari)-Nya berupa adanya persaudaraan." (QS. 3: 103).

Ayat di atas bukti, bahwa sesungguhnya ‘persaudaraan’ sesama kita adalah sebuah nikmat dari Tuhan. 

"Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan....?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?

Istri : Mahram Apa Bukan?

Ulama Dikenal Karena Tulisannya (Karya Ilmiah)